BANGGAI TIMES— Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) bersama Badan Kelautan dan Atmosfer AS (NOAA) menerbitkan peringatan resmi terkait masuknya siklus Very Strong El Niño pada periode 2026–2027. Konsensus riset iklim global tersebut memproyeksikan puncak kekuatan anomali suhu laut akan berlangsung pada Oktober hingga November 2026, yang berpotensi memicu kekeringan ekstrem dan keterlambatan musim hujan di wilayah Indonesia.
Pemantauan NOAA dan Bureau of Meteorology (BOM) Australia mencatat lonjakan anomali suhu permukaan laut di Pasifik Tengah hingga menembus +3,3°C di atas rata-rata normal. Fenomena ini diperparah oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif, yang menekan pembentukan awan hujan secara drastis di kawasan Indonesia.
Perkembangan Siklus Berdasarkan Bulan

Berdasarkan analisis pemodelan cuaca internasional yang selaras dengan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berikut tahapan dampaknya:
- Mei – September 2026 (Fase Pemanasan Awal): Suhu Pasifik mulai memanas secara konsisten, memicu awal musim kemarau yang jauh lebih kering dari rerata historis.
- Oktober – November 2026 (Puncak Kekeringan Ekstrem): Titik puncak kekuatan El Niño. Penurunan curah hujan berada pada level paling signifikan, meningkatkan risiko krisis air bersih dan lonjakan titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan.
- Desember 2026 – Maret 2027 (Keterlambatan Musim Hujan & Dampak Tanam): WMO memperkirakan intensitas El Niño masih bertahan hingga kuartal pertama 2027. Penundaan awal musim hujan memicu pergeseran jadwal tanam dan mengancam pasokan pangan.
- April – Juni 2027 (Fase Peluruhan): Anomali suhu permukaan laut mulai meluruh (decaying phase) menuju kondisi iklim Netral ENSO.
Proyeksi Lembaga Meteorologi Global
Laporan NOAA menunjukkan tingkat kepastian hingga 83% bahwa intensitas El Niño kategori kuat ini akan bertahan konsisten sampai awal tahun depan. WMO juga mengategorikan peristiwa 2026–2027 ini sebagai salah satu rekor peningkatan suhu permukaan laut global tertinggi dalam sejarah pencatatan modern.
Sementara itu, BMKG mengonfirmasi bahwa lebih dari 61% Zona Musim (ZOM) di Indonesia mengalami kemunduran jadwal awal musim hujan, dengan 51,9% wilayah diprediksi memiliki durasi musim hujan yang lebih singkat. Pemerintah daerah dan instansi teknis diimbau memperkuat langkah antisipasi pada keandalan pasokan air, sektor pertanian, dan pencegahan karhutla. *

















