Example floating
Example floating
Example 728x250 Example 728x250
EKONOMI BISNIS

Rektor Unismuh Luwuk Ibaratkan Pelemahan Rupiah seperti Turbulensi Pesawat, Ingatkan Risiko Fatal

×

Rektor Unismuh Luwuk Ibaratkan Pelemahan Rupiah seperti Turbulensi Pesawat, Ingatkan Risiko Fatal

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

BANGGAI TIMES – Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Luwuk, Dr. Sutrisno K. Djawa, memberikan peringatan terkait dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang saat ini mencapai Rp17.600. Ia mengibaratkan fenomena ekonomi ini seperti turbulensi pada pesawat terbang yang dirasakan oleh seluruh penumpang di dalamnya.

Sutrisno menekankan bahwa turbulensi ekonomi ini membawa risiko serius bagi stabilitas bangsa. Jika guncangan tersebut kuat, dampaknya bisa berakibat fatal.

“Saat turbulensi terjadi, semua di dalam pesawat ikut merasakan. Tidak ada yang tidak merasakan. Jika turbulensinya kuat, pesawat bisa jatuh. Begitu juga dengan kondisi bangsa, jika rupiah terus melemah mencapai angka ekstrem, misalnya hingga 20.000 (per dolar), ekonomi negara bisa jatuh,” ujar Sutrisno dalam keterangannya, Selasa (2/6/2026)

Baca juga:   Kunjungi Unismuh Luwuk, Bupati Banggai Beri Kuliah Perdana Program Magister Manajemen FEB Unismuh Luwuk

Dampak Buruk bagi Middle Income Trap

Dalam pandangan pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unismuh Luwuk ini, kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap guncangan ini adalah mereka yang berada di posisi middle income trap (pendapatan menengah). Kelompok ini digambarkan sebagai individu yang menjadi tulang punggung bagi beberapa orang di keluarganya.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah mengancam upaya peningkatan kesejahteraan kelompok tersebut. Banyak masyarakat yang sebelumnya berada di ambang kenaikan level ekonomi, kini terancam gagal, bahkan tidak sedikit yang berisiko turun ke level ekonomi yang lebih rendah.

Baca juga:   Unismuh Luwuk Kirim 2 Akademisi di Parlemen Lalong, Ini Wejangan Rektor Sutrisno

Desakan Pengawasan Logistik

Menyikapi kondisi tersebut, Sutrisno menyarankan pemerintah untuk melakukan langkah mitigasi yang konkret, khususnya dalam menjaga rantai pasok kebutuhan dasar.

“Rantai pasok sembilan bahan pokok mulai dari beras hingga bahan bakar minyak (BBM) dan tabung gas subsidi maupun non-subsidi, harus diawasi secara ketat oleh pemerintah di masa-masa pelemahan nilai tukar rupiah ini,” tegasnya.

Langkah pengawasan ketat terhadap distribusi logistik dinilai krusial agar beban ekonomi masyarakat, khususnya kelas menengah, tidak semakin berat akibat spekulasi harga atau kelangkaan barang di tengah ketidakpastian nilai tukar. *

(Naser Kantu)

Example 120x600