Scroll untuk baca artikel
HUT Banggai Times
Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan dan Budaya

Jadi Narasumber Kuliah Umum S2 Pedagogi Unismuh Luwuk, Kadis Syafrudin Hinelo : Guru Masa Kini Butuh Kompetensi Akademik Tingkat Tinggi

×

Jadi Narasumber Kuliah Umum S2 Pedagogi Unismuh Luwuk, Kadis Syafrudin Hinelo : Guru Masa Kini Butuh Kompetensi Akademik Tingkat Tinggi

Sebarkan artikel ini
HUT Banggai Times
Example 468x60

BANGGAI TIMES – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banggai, Syafruddin Hinelo, menekankan pentingnya guru untuk terus meningkatkan kapasitas intelektual dan profesionalisme di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi.

Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Kuliah Umum Program Studi S2 Pedagogi FKIP Universitas Muhammadiyah Luwuk (Unismuh Luwuk), yang mengusung tema “Membangun Guru Profesional dan Berdaya Saing di Era Transformasi Digital.”

HUT Banggai TimesHUT Banggai Times

Kuliah umum tersebut digelar secara hybrid, daring dan luring, di Ruang Pascasarjana Unismuh Luwuk.

Kegiatan dibuka langsung oleh Rektor Unismuh Luwuk, Dr. Sutrisno K. Djawa, SE., MM., didampingi Ketua BPH Unismuh Luwuk Dr. Farid Haluti, Dekan FKIP Dr. Armin Haluti, Ketua Program Studi S2 Pedagogi Dr. Hasrat Aimang, serta diikuti mahasiswa baru S2 Pedagogi dan sejumlah guru.

Dalam pemaparannya, Syafruddin mengatakan profesi guru mengalami perubahan seiring perkembangan zaman.

Menurutnya, standar pendidikan dan kompetensi yang dibutuhkan seorang guru terus bergerak mengikuti tuntutan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Ia mencontohkan, pada masa lalu seseorang dapat menjadi guru setelah menempuh pendidikan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Namun, standar tersebut kini telah berubah dan profesi guru menuntut kualifikasi akademik yang lebih tinggi.

“Pergeseran zaman mengharuskan semua orang meng-upgrade dirinya. Kalau kita tidak meng-upgrade diri mengikuti perkembangan hari ini, insyaallah kita akan ketinggalan kereta masa depan,” tegas Syafruddin.

Menurutnya, perubahan tersebut bukan hanya terjadi pada dunia pendidikan, tetapi telah masuk ke berbagai ruang publik dan pemerintahan.

Karena itu, guru tidak boleh berhenti belajar hanya karena telah memiliki ijazah atau pengalaman mengajar.

Syafruddin menegaskan, gelar akademik tidak otomatis menentukan kualitas berpikir seseorang.

Baca juga:   Diresmikan Kabid SD Disdikbud Banggai, Brain Academy Ruangguru Akhirnya Hadir di Luwuk

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ilmu yang dimiliki diterapkan, dianalisis dan dikembangkan dalam praktik.

“Tidak ada cerita harga sebuah ijazah menentukan tingkat berpikir seseorang, kecuali dia tidak mau menjalankan gelar itu. Pilihannya, apakah kita berhenti meng-upgrade diri atau mau terus meng-update diri agar tidak ketinggalan kereta masa depan,” ujarnya.

Syafruddin juga mengingatkan bahwa guru pada hakikatnya merupakan seorang pembelajar. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membimbing dan merangsang perkembangan cara berpikir peserta didik.

Menurutnya, guru harus mampu memahami karakter dan kebutuhan anak didiknya sehingga proses pembelajaran tidak berhenti pada transfer pengetahuan.

“Guru adalah orang yang membimbing. Guru harus mampu meng-upgrade alam pikiran anak, merangsang alam berpikir mereka dan mengarahkan cara berpikir mereka agar siap menghadapi zamannya,” jelasnya.

Ia mengatakan, pengalaman mengajar menjadi modal penting bagi seorang guru. Sebab, seorang guru telah melalui proses panjang dalam menerapkan ilmu dan membentuk generasi.

“Seorang guru SD, guru SMP mampu menciptakan seorang polisi, mampu menciptakan seorang tentara, mampu menciptakan seorang dosen. Itulah bukti terbesar,” katanya.

Namun, menurutnya, tuntutan zaman saat ini membuat pengalaman tersebut perlu diperkuat dengan peningkatan kualifikasi dan kemampuan analisis.

Khusus kepada mahasiswa S2 Pedagogi, Syafruddin menekankan bahwa jenjang pendidikan pascasarjana harus membawa perubahan pada cara berpikir.

Ia berharap mahasiswa S2 memiliki kemampuan analisis yang lebih tajam dibandingkan ketika masih berada pada jenjang S1.

“Mahasiswa pascasarjana harus beda alam berpikirnya, daya analisa intelektualnya, etika moralnya serta cara melihat sebuah permasalahan,” ujarnya.

Menurutnya, jenjang S1 lebih banyak menjadi tahap pengenalan keilmuan, sementara S2 harus membawa mahasiswa pada tahap pendalaman dan kemampuan menganalisis persoalan.

Baca juga:   Di Upacara Ulang Janji Gerakan Pramuka, Wabup Furqanuddin Sebut Bangga Menjadi Bagian Dari Pramuka

Ia bahkan menyebut kemampuan analisis sebagai salah satu kunci penting dalam pengambilan keputusan dan penyusunan kebijakan.

“Analisa menjadi pisau bedah yang paling baik. Peningkatan daya analisa merupakan salah satu jalan untuk meningkatkan kualitas intelektual kita,” katanya.

Syafruddin juga mengajak mahasiswa S2 untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi membiasakan diri menguji, mengolah dan menyimpulkan informasi berdasarkan analisis.

Dalam kesempatan tersebut, Syafruddin turut menekankan pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang saling mendukung.

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada guru atau sekolah. Pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat dan berbagai unsur lainnya perlu membangun kerja sama.

Ia mengapresiasi penyelenggaraan Program S2 Pedagogi di Unismuh Luwuk yang dinilai memberikan kesempatan kepada para guru untuk meningkatkan kualifikasi akademik tanpa harus meninggalkan daerah.

Syafruddin berharap fasilitas dan program pendidikan yang tersedia di daerah dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para guru.

“Pendidikan sudah berada di sebelah rumah. Apakah harus naik pesawat lagi? Pemerintah tentu akan mendukung proses pascasarjana, apalagi ini untuk peningkatan kualitas guru,” ujarnya.

Ia menegaskan, peningkatan kualifikasi pendidikan harus berbanding lurus dengan perubahan perilaku, kemampuan berpikir dan kualitas pengabdian.

“Kalau sudah menyandang pendidikan S2, wajib terjadi perubahan perilaku. Wajib untuk mencari kebenaran, menganalisis dan memperdebatkan kebenaran secara ilmiah,” pungkasnya.

Kuliah umum tersebut menjadi bagian dari upaya Program Studi S2 Pedagogi FKIP Unismuh Luwuk memperkuat wawasan mahasiswa dalam menghadapi dinamika profesi guru dan tantangan transformasi digital di dunia pendidikan.*

HUT Banggai Times
Example 120x600