Example floating
Example floating
Example 728x250 Example 728x250
BABASALAN

Jabatan yang Ditinggal, Jalan yang Terbentang: Renungan Amirudin di Usia ke 66 Kabupaten Banggai

×

Jabatan yang Ditinggal, Jalan yang Terbentang: Renungan Amirudin di Usia ke 66 Kabupaten Banggai

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KETIKA pintu putih itu terbuka, seorang pria melangkah keluar, bersiap membelah jalanan dengan sepeda motornya. Di balik kacamata hitam dan helmnya, tersimpan sebuah visi besar yang sedang berjalan. Ini bukan sekadar perjalanan fisik melanglang jalanan kota, melainkan refleksi dari sebuah perjalanan kepemimpinan: satu tahun di periode kedua yang penuh dinamika di Kabupaten Banggai.

Pembangunan acapkali diukur dari deretan angka-angka statistik. Di atas kertas, Banggai mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,78%, sebuah angka yang melambangkan denyut nadi transaksi di pasar-pasar tradisional, tawar-menawar harga ikan segar, dan tumpukan kelapa hasil panen warga. Angka kemiskinan pun berhasil ditekan hingga menjadi 6,23%, beriringan dengan naiknya Indeks Pembangunan Manusia ke angka 73,44%. Namun, jika kita merenung lebih dalam di balik persentase tersebut, apa arti sejati dari pembangunan itu sendiri? Di punggung teluk Lalong yang mempertemukan daratan dan lautan, sebuah daerah dibentuk bukan hanya oleh alamnya yang megah, melainkan oleh ingatan kolektif masyarakatnya.

Di sanalah esensi pembangunan bermuara. Pembangunan bukanlah tentang monumen mati yang megah, melainkan tentang langkah-langkah nyata yang diarahkan agar tetap hadir hingga ke pelosok desa, menyapa warga pesisir, dan mengisi ruang-ruang tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari.

Baca juga:   Kunjungi Unismuh Luwuk, Bupati Banggai Beri Kuliah Perdana Program Magister Manajemen FEB Unismuh Luwuk

Ia menjelma menjadi jalan aspal sepanjang 1.233,84 kilometer yang menembus rimbunnya hutan kelapa, menghubungkan anak-anak sekolah bermata binar dengan ruang kelas mereka. Ia mewujud pada 5.964 siswa yang menerima manfaat program pendidikan, serta jaminan akses layanan kesehatan yang kini merangkul lebih dari 127.510 jiwa. Dari balik meja-meja birokrasi, ruang kontrol digital yang canggih, hingga peluh para pekerja konstruksi dan petani di ladang, semuanya bergerak dalam harmoni penyesuaian di berbagai sektor.

Ada sebuah kalimat mendalam yang diucapkan di tengah kesunyian pantai, “Jabatan akan selesai pada waktunya, namun jalan yang dibangun akan tetap dilalui,” terdengar dari suara teduh pemimpin Kabupaten Banggai, Amirudin Tamoreka, tatkala merenungi daerah yang dipimpinnya kini berusia 66 tahun.

Pernyataan ini adalah puncak dari segala perenungan. Jabatan kepemimpinan, sekuat apa pun digenggam, memiliki batas waktu yang mutlak. Ia adalah fana. Namun, infrastruktur dasar, fasilitas pendidikan yang mendidik generasi masa depan, serta layanan kesehatan yang diperbaiki akan mengakar menjadi warisan abadi yang terus dirasakan manfaatnya oleh generasi demi generasi.

Baca juga:   Pembukaan KEMBAR 2025: Pramuka Luwuk Satukan Semangat Kebersamaan dan Kepemimpinan

Tentu, tidak semua harapan dapat diwujudkan dalam waktu yang singkat. Di tengah berbagai keterbatasan dan dinamika pemerintahan, setiap upaya kecil tetap diikhtiarkan agar pembangunan terus berjalan merata.
Pada akhirnya, jika ada satu hal yang paling berharga untuk dijaga dari seluruh perjalanan ini, hal itu adalah kepercayaan.

Kepercayaan dari masyarakat yang berkumpul di malam hari, dari senyuman hangat warga di desa-desa, dan dari doa-doa yang dipanjatkan bersama. Kepercayaan inilah yang menjadi bahan bakar utama untuk terus bergerak bersama, melangkah ke arah yang sama, demi membawa Banggai menuju gerbang masa depan yang lebih cerah sebagai Gerbang Timur Sulawesi Tengah.

Sebab di setiap hasil panen, setiap tangkapan laut, dan setiap usaha yang tumbuh, selalu ada keluarga yang berharap—dan ada kehidupan yang harus terus berjalan. *

Example 120x600