BANGGAI TIMES — Forum Kepala Teknik Tambang (FKTT) Sulawesi Tengah menggelar Jambore Pertambangan Sulteng 2026 sebagai ajang konsolidasi untuk memperkuat tata kelola sektor pertambangan di daerah tersebut. Forum ini menjadi ruang strategis bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menyelaraskan komitmen dalam pengelolaan sumber daya alam.
Ketua FKTT Sulawesi Tengah, M. Najmi Alramadan, menegaskan posisi vital Kepala Teknik Tambang (KTT) sebagai pilar penyeimbang antara kepentingan industri dan kepatuhan aturan. Menurut Najmi, KTT mengemban tanggung jawab berat, di mana kelalaian dapat berujung pada pencabutan sertifikasi oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) maupun pemberhentian oleh pemilik izin usaha pertambangan.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengingatkan bahwa kekayaan mineral serta ratusan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang ada di wilayah tersebut tidak hanya menyimpan potensi ekonomi besar, tetapi juga membawa tanggung jawab sosial dan lingkungan yang luas.
Wakil Gubernur Sulteng Renny Lamadjio yang juga membuka Jambore, menekankan pentingnya keberlanjutan dampak pembangunan dari aktivitas pertambangan. Ia menyampaikan bahwa walau cadangan sumber daya alam suatu saat akan habis, manfaat pembangunan harus terus dirasakan secara berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat, kelestarian lingkungan, serta masa depan generasi penerus. *





















