Scroll untuk baca artikel
Jmsi
Example floating
Example floating
Example 728x250
EKONOMI BISNIS

Menghadang El Nino di Tanah Kayowa: Perjalanan Bioferdom Pertamina dan Sekolah Lapang yang Mengubah Nasib Petani

×

Menghadang El Nino di Tanah Kayowa: Perjalanan Bioferdom Pertamina dan Sekolah Lapang yang Mengubah Nasib Petani

Sebarkan artikel ini
Berkah Tuhan, bioferdom Pertamina berhasil meningkatkan 80 persen lebih panen jagung oleh petani di Desa Kayowa. Tampak Benny Irawan bersama tenaga kerjanya sedang memanen hasil jerih payahnya. (Foto : HO Pertamina)
Example 468x60

“Dari rahim sisa pengolahan industri yang kerap dipandang sebelah mata, sebuah asa baru perlahan dihidupkan untuk merawat bumi yang mulai lelah. Pertamina EP Donggi Matindok Field, sebagai salah satu lini penggerak energi di Zona 13 Regional 4 Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, terus menenun harapan di atas hamparan tanah Kabupaten Banggai melalui Bioferdom berbasis Sekolah Lapang”

BANGGAI TIMES, Batui – Menyusuri lintasan jalan Trans Sulawesi dari Kota Luwuk menuju Desa Kayowa di Kecamatan Batui, raga seolah dipanggang dalam sebuah ruang oven raksasa yang tidak bertepi. Dua jam perjalanan di bawah terik hari Jumat (2/10/2026), itu menyuguhkan sebuah panorama yang teramat getir. Sengatan surya meraja letha tanpa ampun, udara kering merangkul kulit dengan kejam, dan debu jalanan berhamburan memenuhi udara setiap kali ban kendaraan menggilas aspal yang retak. Betapa ganasnya dekapan El Nino musim ini benar-benar mencengkeram alam. Ia mengeringkerontangkan pepohonan yang rindang, merenggut kehijauan daun yang semestinya segar, hingga melayukan rerumputan terkecil di pinggir jalan tanpa menyisakan sedikit pun sisa kehidupan.

Namun di balik lanskap alam yang seolah mati dan meranggas itu, denyut kehidupan di Kayowa menolak tunduk begitu saja pada keadaan. Harapan warga setempat tidak sekadar disemai pada petak-petak tanah yang legam dan kehausan, melainkan ditumpukan pada keberanian merengkuh cara-cara baru yang belum pernah dicoba sebelumnya. Tujuan armada ekspedisi kami hari itu memang menyasar kebun-kebun jagung binaan Pertamina EP Donggi Matindok Field (PEP DMF). Sesampainya di Desa Kayowa, mobil yang kami tumpangi berbelok sejauh sepuluh kilometer masuk ke perut desa dari jalan raya utama, perjalanan langsung diuji dengan medan yang terjal dan menantang.

Dua kali kami harus berpindah ke jenis kendaraan yang berbeda demi menaklukkan kontur tanah, hingga akhirnya disambut hangat oleh Fuad Raif Prasetyo dari tim Eksternal Relation PEP DMF. Sambil menyeka peluh di kening dan melambaikan tangan dengan senyum sumringah, ia menyambut kedatangan kami di ujung jalan produksi. Armada kabin ganda kemudian mengambil alih kemudi, merayap perlahan di atas jalan berbatu keras sepanjang dua kilometer, sebuah jalan kantong produksi yang khusus yang sengaja dibangun perusahaan demi memuluskan mobilitas warga dan distribusi hasil bumi. Tepat lima ratus meter sebelum hamparan kebun subur milik Pak Anto, roda kendaraan pun berhenti. Kami sempat pula melintasi sebuah kandang ayam petelur milik Pak Joni, sebuah potret manis ekonomi integratif yang berdiri tegak berkat uluran tangan perusahaan.

Di balik rimbunnya dedaunan jagung yang berjuang bertahan hidup di tengah dahaga, tersimpan sebuah pergulatan klasik yang kerap menentukan nasib akhir panen. Kesehatan tanah yang mulai menurun, ketersediaan nutrisi yang terbatas, serta beban biaya produksi yang kian mencekik leher menjadi momok menakutkan. Ketika harga pupuk kimia melambung tinggi menembus awan, mimpi para petani untuk mendulang hasil berlimpah kerap terbentur pada tembok tebal realitas keuangan yang rapuh.

Melihat kegundahan yang merayap di benak para penggarap tanah tersebut, Pertamina EP Donggi Matindok Field memperkenalkan Bioferdom sebagai jawaban atas keresahan panjang. Inovasi gemilang ini lahir dari pengolahan produk samping sulfur di pusat pengolahan gas Matindok dan Donggi. Melalui sentuhan biologis yang teliti bersama koloni bakteri pilihan, limbah sulfur disulap menjadi biosulfur yang ramah lingkungan, lantas dikawinkan secara sempurna dengan kotoran ternak berkualitas. Sesuatu yang mulanya dipandang sebelah mata dan membutuhkan penanganan rumit kini menjelma sebagai penyelamat kesuburan tanah rakyat.

Muh. Syair (Kiri) bersama Anto (Kanan) menjelaskan terkait bioferdom Pertamina EP Donggi Matindok Filed. (Foto : Naser Kantu/Banggai Times)

Bagi Muh. Syair, seorang Community Development Officer PEP DMF yang sudah setahun mendampingi warga, misi mulia ini jauh melampaui sekadar bagi-bagi pupuk gratis. Sarjana Pertanian lulusan Universitas Tadulako ini paham betul bahwa transfer pengetahuan adalah kunci utama agar perubahan benar-benar berakar. Petani tidak cukup hanya menerima bantuan material begitu saja. Sambil menunjuk ke arah petak kebun dengan gestur tangan yang tegas namun bersahabat, ia bertutur penuh keyakinan.

“Mereka perlu memahami alasan mendasar, cara aplikasi yang benar, dan waktu yang tepat agar tanah benar-benar merespons nutrisi dengan optimal,” ujarnya dengan gaya berbicara yang tenang.

Ia mencontohkan pupuk jenis ZA yang selama ini diandalkan petani sebagai sumber sulfur konvensional, namun harganya kerap melambung tinggi hingga menembus Rp300.000., per karung dan memberatkan kantong. Bioferdom hadir dengan penuh wibawa sebagai alternatif penawar luka finansial tersebut tanpa mengurangi esensi kesuburan. Kendati demikian, pendamping desa ini tak pernah lelah mengingatkan bahwa takaran dosis yang pas, karakter tanah yang unik, serta ketelitian di lapangan tetap menjadi panglima tertinggi. Gayung pun bersambut dengan penuh antusias, tatkala Pak Anto melihat inovasi ini sebagai mercusuar baru bagi masa depan ladangnya.

Transformasi besar tidak pernah lahir dalam sekejap mata layaknya keajaiban malam. Sejak tahun 2025, perkenalan intensif dengan Bioferdom dikawal ketat melalui uji coba polibag sederhana hingga berdirinya lahan percontohan di tengah perkebunan. Di sinilah Kelompok Tani Mosa Angu, yang dinakhodai oleh Benny Irawan bersama 25 anggota setia di atas hamparan seluas puluhan hektare, menemukan ruang berharga untuk bertukar pikiran dan menempa diri.

Poktan Mosa Angu Merawat Harapan Kolektif Petani

Agar lebih fokus menerapkan bioferdom Pertamina, seluruh petani jagung Desa Kayowa mulai membentuk Kelompok Tani (Poktan) Mosa Angu, yang mengandung arti persatuan dalam bahasa suku asli Kabupaten Banggai, suku Saluan benar-benar dihidupkan melalui semangat kerja kolektif yang membara. Anto bertutur dengan postur tubuh tegap dan mata berbinar-binar penuh semangat, menegaskan bahwa persoalan bertani bukan sekadar menebar benih lalu menunggu hujan turun. Sambil melipat tangan di dada dengan senyum bangga, ia menyampaikan sebuah kalimat yang menggetarkan.

“Ini pengalaman berharga bagi kami, kami jadi tahu cara mengatur jarak tanam yang ideal, menjauhkan tanaman dari serangan hama perusak, serta memegang teguh prinsip operasional yang terukur,” ungkapnya.

Prinsip tersebut merangkum standar operasional berlabel SOP Enam Tepat, yang menuntut kedisiplinan tinggi dari setiap penggarap lahan. Mulai dari ketepatan sasaran, ketepatan penggunaan, ketepatan waktu, ketepatan cara, ketepatan dosis, hingga ketepatan mutu hasil akhir. Berkat pendampingan yang sabar dan berkelanjutan, para petani mulai meninggalkan kebiasaan lama yang kurang efektif. Pengendalian ulat grayak yang tadinya menghabiskan banyak botol pestisida kimia, kini berhasil diringkas secara drastis setelah mereka memahami perbedaan mendasar antara racun kontak dan sistemik.

Benny Irawan mengaplikasikan bioferdom dilahan jagung miliknya. (Foto : HO Pertamina)

Ada juga anggota kelompok tani Pak Rastam. Ia bersama Benny, tampil sebagai motor penggerak terdepan yang mengaplikasikan Bioferdom secara konsisten di lahan masing-masing. Mereka membuktikan bahwa ilmu pengetahuan baru jauh lebih tajam dan bernilai daripada sekadar mengandalkan kebiasaan turun-temurun yang kerap merugikan. Dari satu hamparan hijau menuju hamparan lainnya, pengetahuan berharga itu terus menjalar tanpa henti, mengubah cara pandang masyarakat dalam mengelola kekayaan alam desa.

Rastam sedang menyemprotkan pestisida ke tanaman jagung dengan SOP Enam Tepat. (Foto : HO Pertamina)

Pada dimensi teknis agronomis, pemanfaatan inovasi pupuk biosulfur atau Bioferdom terbukti efektif sebagai pupuk pendamping NPK yang mendukung efisiensi pemupukan berimbang. Hasil uji eksperimental menunjukkan bahwa kombinasi NPK 75 persen dengan biosulfur 75 hingga 100 persen mampu menghasilkan tingkat pertumbuhan vegetatif yang setara dengan pemupukan NPK 100 persen tanpa biosulfur, sehingga membuka peluang penghematan penggunaan pupuk anorganik NPK sebesar 9 hingga 19 persen. Meskipun demikian, biosulfur tidak berfungsi sebagai substitut penuh NPK melainkan sebagai suplemen hara sulfur dan pembenah organik tanah yang mengoptimalkan serapan nutrisi tanaman.

Sekolah Lapang Sebagai Laboratorium Petani

Seiring dimulainya penggunaan bioferdom, PEP DMF mendirikan sebuah Sekolah Lapang sebagai wadah pembelajaran terpadu untuk petani jagung Kayowa.

Di sekolah ini, Syair dengan gamblang mengajarkan teori sekaligus memandu praktik langsung kepada para petani terkait teknik perbanyakan mandiri jamur mikoriza menggunakan media karbohidrat nasi matang yang dicampur tanah dari kedalaman sepuluh sentimeter di bawah tegakan akar bambu muda. Sambil memperagakan cara mencampur adonan dengan gestur tangan yang teliti, ia menjelaskan bahwa pemilihan nasi didasarkan pada struktur gula kompleks yang efektif sebagai sumber nutrisi, sementara media yang bersih berfungsi mencegah dominasi mikroorganisme patogen agar populasi mikoriza dapat berkembang optimal. Setelah diinkubasi selama dua hingga tiga minggu hingga ditandai kemunculan benang putih atau hifa, biakan tersebut diaplikasikan langsung pada perakaran tanaman jagung saat usia nol hingga tujuh hari setelah tanam pada kondisi tanah yang agak basah, guna membantu perakaran menyerap cadangan air di lapisan dalam saat musim kemarau.

Syair mengajarkan anggota Poktan Mosa Angu terkait micoriza dan fotosintesis. (Foto : Naser Kantu/BANGGAI TIMES)

Tidak berhenti sampai di situ, Syair kembali berdiri di hadapan para warga dengan penuh semangat untuk mengupas teori serta mempraktikkan langsung pemanfaatan bakteri fotosintesis (photosynthetic bacteria) yang bersumber dari air kolam ikan berwarna hijau. Sambil memegang botol sampel cairan hijau dan memerhatikan reaksi warga, ia memaparkan bahwa cairan bernilai ekonomis tinggi ini diaplikasikan dengan cara disemprotkan ke daun saat terik matahari melanda, berfungsi untuk menyerap sinar matahari dan memperpanjang durasi fotosintesis tanaman dari tujuh jam menjadi sepuluh jam, sehingga proses pembuahan serta pengisian biji jagung menjadi jauh lebih optimal di tengah hantaman cuaca ekstrem.

Secara keseluruhan, integrasi Sekolah Lapang dan pemanfaatan pupuk Bioferdom memberikan dampak multidimensional yang nyata terhadap resiliensi sosial ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Paket program ini berhasil meningkatkan produktivitas jagung dari 0,99 menjadi 1,87 ton per hektare atau melonjak sebesar 89,4 persen serta mengescalasi efisiensi finansial atau rasio pendapatan terhadap biaya dari 1,26 menjadi 2,10. Capaian gemilang ini secara paralel menekan kerentanan ekonomi dengan menurunkan jumlah petani yang mengalami kerugian dari sepuluh orang menjadi tinggal satu orang saja.

Syair mempraktikkan cara mengaktifkan micoriza dan fotosisntesis. (Foto : Naser Kantu/BANGGAI TIMES)

Kalkulasi ekonomi di tingkat petani kian memperlihatkan hasil yang kasat mata dan membanggakan. Dalam catatan analisis usaha para anggot Poktan Mosa Angu, nilai penjualan kotor dari hasil panen jagung kini mampu menembus angka sekitar Rp24 juta per hektare. Setelah dikurangi dengan estimasi total biaya produksi sebesar kurang lebih Rp10 juta, para petani di Desa Kayowa kini dapat mengantongi laba bersih yang melegakan, berada di kisaran Rp14 juta per hektare setiap musimnya. Pundi-pundi rupiah dari hasil panen yang dibawa pulang bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan modal berharga untuk menyambung hidup sekaligus menopang langkah menyongsong musim tanam berikutnya dengan kepala tegak.

Lebih dari sekadar peningkatan hasil panen, model ini merepresentasikan sintesis antara pemberdayaan masyarakat berbasis andragogi dan prinsip ekonomi sirkular melalui konversi limbah industri menjadi input pertanian berkelanjutan.

Perjalanan panjang menuju Kayowa meninggalkan kesan mendalam bahwa perubahan besar sering kali bersemi dari langkah-langkah kecil yang konsisten, mulai dari pemanfaatan sisa pengolahan industri yang menemukan kemuliaan fungsi baru, dari para petani yang berani membuka hati pada metode modern, hingga dari diskusi-diskusi hangat di saung sederhana pinggir sawah. Di bawah terik matahari Batui yang menyengat, masyarakat Kayowa kini berdiri tegak menatap masa depan, merawat asa dari tanah yang mereka cangkul dengan penuh ketulusan dan keberanian. ***

(Penulis : Naser Kantu)

Baca juga:   Eratkan Silaturahmi, PPK Teluk Lalong Salurkan THR Idul Fitri Untuk 78 Anggota
Example 120x600